tidak beriman seseorang sebelum diuji

BerIMANbahwa UJIAN dan COBAAN adalah untuk menDEKATkan dirinya kepada Allah. "Apabila Allah menCINTAi hamba maka dia diUJI agar Allah menDENGAR perMOHONannya (kerendahan dirinya)." (HR. Al-Baihaqi) 11. BerIMAN bahwa Allah mengUJI seorang hamba sesuai dengan keMAMPUannya. "Allah tidak memBEBANi seseorang melainkan SESUAI dengan DalilPertama: عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ﭬ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ؛ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab radhi Allahu anh, bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda : "Janganlah kalian mencaci maki Baikitu yang beriman dan tidak beriman, semuanya pasti akan diberikan cobaan sebagai bentuk kasih sayang Allah agar kita sebagai seorang Muslim tidak melupakan-Nya. "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang Allah Dalam artian bahwa manusia bertakwa adalah yang melaksanakan Islam. secara kaffah. 2. Hamba yang selalu bersyukur dan. tidak pernah ' ngersulo ' kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi. Dalam kondisi berlebihan/bahagia, manusia sudah biasa dan selalu siap untuk. bersyukur. Alhamdulillah, hari ini dapat rejeki, Subhanallah, saya Setiapmanusia tidak terlepas daripada mengalami tekanan atau stres kerana ia merupakan asam garam dalam kehidupan. Bezanya hanyalah pada tahap stres yang dialami oleh seseorang itu, sama ada serius atau pun tidak. Sehubungan dengan itu, seseorang yang mengalami stres hendaklah bijak menguruskannya agar kehidupan menjadi lebih aman dan sempurna. Ich Möchte Einen Reichen Mann Kennenlernen. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al-Ankabut 2-3Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rangkaian ayat ke-2 dan ke-3 dalam Al-Ankabut di atas menegaskan bahwa setiap orang yang telah mengikrarkan diri bahwa dia seorang mukmin, maka pasti dia akan diuji oleh Allah Swt dengan beragam bentuk ujian untuk membuktikan keimanannya menambahkan, bahwa ujian adalah sunnatullah yang berlaku pada setiap umat, setiap individu. Maka, tidak ada seorang pun yang terlepas Ali Al-Shabuni, ketika menafsirkan rangkaian ayat ke-3 dari surat al-Ankabut tersebut menyatakan bahwa tujuan hadirnya ujian dan cobaan hidup itu untuk membedakan siapa yang benar-benar beriman penuh kesungguhan dan siapa yang berdusta akan keimanannya antara cara Allah untuk membuktikan keimanan seseorang adalah dengan menghadirkan ujian kepadanya. Ya, ujian adalah salah satu cara untuk megukur kadar keimanan orang yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji dengan sakit yang tak kunjung sembuh. Ada yang diuji dengan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Ada yang diuji dengan sulitnya mendapatkan jodoh. Dan ada pula yang diuji dengan tidak memiliki beragam ujian tersebut, ada orang yang tetap teguh pada keimanannya. Alih-alih mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, menyesali kondisi yang tengah dialaminya, dia justru menjadi seorang mukmin yang semakin kuat dan tangguh keimanannya. Dia yakin sepenuh hati bahwa beragam ujian yang Allah hadirkan mengandung hikmah serta pelajaran berharga dalam sisi lain, ada orang yang menyikapi segala ujian dan cobaan yang menimpanya dengan mengeluh, meratapi keadaan, mengutuk nasib, bahkan tidak jarang mempertanyakan keadilan Allah. Dia tidak sabar dengan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sedih berkepanjangan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya, terus berkeluh kesah dengan sakit yang dideritanya, menyesali sulitnya mendapatkan jodoh, serta menggugat keadilan Allah karena tidak hadirnya keturunan. Dia berburuk sangka kepada Allah. Dia hanya fokus melihat sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak memperhatikan apa yang telah kalau dia mau berpikir jernih, nikmat yang telah Allah berikan kepadanya jauh lebih besar daripada kekurangan’ yang ada padanya. Seandainya dia menghitung nikmat Allah yang sangat besar itu, pasti dia tidak akan bisa menghitungnya. Kalaulah dia mau terus menerus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, maka pasti Allah akan menambah nikmat-Nya dua kondisi berbeda dalam menyikapi ujian dan cobaan hidup, yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dua kondisi tersebut mencerminkan tingkat keimanan yang tetap teguh istiqamah pada keimanannya, meskipun badai ujian dan cobaan datang silih berganti menghadangnya, akan semakin tinggi kualitas keimanannya. Malaikat akan turun’ membantunya dan memberinya kabar gembira atas usahanya mempertahankan keimanan dalam dirinya.“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Fushshilat 30Sedangkan mereka yang berputus asa atas ujian yang menimpanya, Allah samakan mereka dengan orang-orang kafir yang terputus dari rahmat Allah.“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” Yusuf 87.Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ada seorang lelaki yang berkata “Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?” Rasulullah saw. menjawab, Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah’.” HR. Al-BazzarDengan sejumlah keterangan tersebut di atas, jelaslah bahwa ujian pasti akan datang dalam beragam bentuk kepada setiap manusia, lebih-lebih kepada mereka yang telah mengikrarkan diri beriman kepada Allah beragam ujian dan cobaan tersebut, dapat diketahui siapa di antara manusia yang paling baik amalnya, yaitu siapa yang paling teguh menjaga keimanannya, dan siapa yang mudah goyah bahkan runtuh bahwa karena engkau telah menyatakan diri sebagai orang yang beriman, maka engkau pasti akan diuji. Demikian kira-kira pesan al-Qur’an kepada a’lam bi al-shawab….* Ruang Inspirasi, Selasa, 7 September “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al-Ankabut 2-3Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rangkaian ayat ke-2 dan ke-3 dalam Al-Ankabut di atas menegaskan bahwa setiap orang yang telah mengikrarkan diri bahwa dia seorang mukmin, maka pasti dia akan diuji oleh Allah Swt dengan beragam bentuk ujian untuk membuktikan keimanannya menambahkan, bahwa ujian adalah sunnatullah yang berlaku pada setiap umat, setiap individu. Maka, tidak ada seorang pun yang terlepas Ali Al-Shabuni, ketika menafsirkan rangkaian ayat ke-3 dari surat al-Ankabut tersebut menyatakan bahwa tujuan hadirnya ujian dan cobaan hidup itu untuk membedakan siapa yang benar-benar beriman penuh kesungguhan dan siapa yang berdusta akan keimanannya antara cara Allah untuk membuktikan keimanan seseorang adalah dengan menghadirkan ujian kepadanya. Ya, ujian adalah salah satu cara untuk megukur kadar keimanan orang yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji dengan sakit yang tak kunjung sembuh. Ada yang diuji dengan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Ada yang diuji dengan sulitnya mendapatkan jodoh. Dan ada pula yang diuji dengan tidak memiliki ragam bentuk ujian yang Allah hadirkan kepada setiap manusia yang mengatakan dirinya beriman kepada Allah tersebut, merupakan cara untuk mengukur seberapa besar dan seberapa tinggi tingkat beragam ujian tersebut, ada orang yang tetap teguh pada keimanannya. Alih-alih mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, menyesali kondisi yang tengah dialaminya, dia justru menjadi seorang mukmin yang semakin kuat dan tangguh keimanannya. Dia yakin sepenuh hati bahwa beragam ujian yang Allah hadirkan mengandung hikmah serta pelajaran berharga dalam ekonomi yang dialaminya, alih-alih mebuatnya putus asa justru menjadikannya semakin rajin dan giat berusaha dengan terus berdoa kepada Allah untuk diberikan kelapangan rezeki. Kehilangan orang-orang yang dicintainya justru menyadarkannya bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Karena setiap manusia pasti akan meninggalkan dunia fana ini. Sakit yang dideritanya, semakin meanambah keimanannya. Karena dia juga yakin bahwa dengan sakitnya itu Allah mengajarkan betapa manusia tidak punya daya dan kekuatan apa pun selain kekuatan yang Allah berikan kepadanya. Kesulitan dalam menadapatkan pasangan hidup, menjadikan seorang mukmin sadar bahwa Allahlah yang menentukan segalanya. Dan ketidakhadiran buah hati yang dinanti selama ini menjadikannya semakin kuat beribadah kepada Allah dan menyerahkan semua urusannya kepada-Nya. Dia menyadari bahwa tidak mudah menjaga amanat. Dia berbaik sangka kepada Allah dengan meyakini setulus hati bahwa pasti ada rencana terbaik yang telah Allah siapkan sisi lain, ada orang yang menyikapi segala ujian dan cobaan yang menimpanya dengan mengeluh, meratapi keadaan, mengutuk nasib, bahkan tidak jarang mempertanyakan keadilan Allah. Dia tidak sabar dengan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sedih berkepanjangan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya, terus berkeluh kesah dengan sakit yang dideritanya, menyesali sulitnya mendapatkan jodoh, serta menggugat keadilan Allah karena tidak hadirnya keturunan. Dia berburuk sangka kepada Allah. Dia hanya fokus melihat sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak memperhatikan apa yang telah kalau dia mau berpikir jernih, nikmat yang telah Allah berikan kepadanya jauh lebih besar daripada kekurangan’ yang ada padanya. Seandainya dia menghitung nikmat Allah yang sangat besar itu, pasti dia tidak akan bisa menghitungnya. Kalaulah dia mau terus menerus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, maka pasti Allah akan menambah nikmat-Nya dua kondisi berbeda dalam menyikapi ujian dan cobaan hidup, yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dua kondisi tersebut mencerminkan tingkat keimanan bahwa karena engkau telah menyatakan diri sebagai orang yang beriman, maka engkau pasti akan diuji. Demikian kira-kira pesan al-Qur’an kepada a’lam bi al-shawab..* Ruang Inspirasi, Selasa, 14 September UJIAN itu sudah pasti bagi setiap manusia di atas muka bumi ini. Cuma yang berbeza jenis dan kadar ujian itu kecil atau besar bersesuaian dengan penerimanya. Ada yang diuji dengan kesusahan hidup, ketakutan musuh, hilang harta, mati, sakit dan ‎وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Maksudnya “Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut kepada musuh dan dengan merasai kelaparan, dan dengan berlakunya kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Surah al-Baqarah 155 Bagi orang yang beriman ujian merupakan syarat kebenaran iman seseorang. Orang lama selalu berkata “ambik kapak belahlah dada” cinta manusia pun ada syarat ujian, apatah lagi cinta kepada Tuhan manusia yang lebih qudus. ‎أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ Maksudnya Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata “Kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji dengan sesuatu cubaan?” Al-Ankabut 2 Hasil daripada ujian itu akan membuktikan akan kebenaran iman seseorang kepada Allah. Jangan ditanya tentang ujian yang datang tapi wajib ditanya kenapa tidak dapat menjawab ujian. Allah berikan hamba-Nya dengan kemampuan menerima ujian di atas iman masing-masing. Allah tidak berlaku zalim kepada hamba-Nya dan Dia tahu bahawa hamba-Nya mampu lulus dengan ujian tersebut. ‎لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ Maksudnya Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Al-Baqarah 286 Cuba kita lihat perjalanan orang-orang yang beriman sebelum daripada kita yang telah Allah uji mereka dengan ujian yang sangat berat jika nak dibandingkan dengan kita. ‎وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ Maksudnya Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al-Ankabut 3 Maka Allah telah menguji orang-orang yg beriman sebelum daripada kita sebagai proses saringan keimanan mereka, lalu kita yang mengaku beriman hari ini juga wajib melalui proses tersebut. Umat Islam tidak boleh rasa lemah dan putus asa tatkala menerima ujian dalam kehidupan. Jauh sekali menyalahkan takdir Ilahi. Yakinlah, setiap ujian itu akan hadir bersamanya hikmah yang besar sekiranya dilalui dengan sabar dan berikhtiar menyelesaikannya. Dari Mush’ab bin Sa’id, seorang tabi’in, dari ayahnya, ia berkata maksud “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya? Baginda SAW bersabda “Para nabi, kemudian yang semisal dengannya. Seseorang akan diuji sesuai dengan keadaan agamanya. Apabila agamanya bergitu kuat kukuh, maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualiti agamanya. Seorang hamba akan sentiasa mendapatkan cubaan sehingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” Hadis Riwayat Tirmizi Kesimpulan Setiap dari manusia akan diuji, itu pasti. Namun, hasil daripada ujian itu adalah yang semakin mendekatkan diri kita kepada Allah atau yang semakin menjauhkan. Itulah yang perlu dilalui bagi melihat sama ada darjat dan keimanan seseorang itu akan bertambah mahupun tidak. USTAZ KAMALULHYSHAMFARHANPresiden Geng Ustaz22 Syawal 1442/3 Jun 2021 – HARAKAHDAILY 3/6/2021 Jenis-Jenis Ujian Keimanan bagi Umat Islam Kesenangan, Kesusahan, Perintah, Larangan, Musibah sesuai Kadar Keimanan. UMAT Islam di seluruh dunia akan terus mendapatkan ujian keimanan dari Allah SWT. Ujian iman bagi kaum Muslim ini bahkan muncul sejak agama Islam diturunkan ke SWT akan menguji kesungguhan keimanan kaum Muslim dengan banyak ujian sehingga diketahui siapa yang benar-benar beriman atau pura-pura beriman alias berbohong; siapa yang sabar, siapa yang kufur, siapa yang munafik, dan siapa yang siap berjihad atau yang lari dari medan jihad kerena lemah iman."Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pendusta.” QS Al-Ankabut [29] 2-3."Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga sedang belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” QS. Al-Baqoroh [2] 214."Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” Ali Imron [3] 142“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk Munafik dari yang baik Mukmin…” QS Al-Baqoroh [2] 179.Ujian Keimanan Kesenangan dan KesusahanSecara umum, Allah SWT menguji keimanan kaum Muslim itu dengan dua jenis ujian, sebagaimana dinamika dan ketentuan yang berlaku dalam kehidupan di dunia1. Kesenangan atau kenikmatan2. Kesusahan atau kesengsaraan," Sungguh akan kami uji iman kalian dengan kesusahan dan dengan kesenangan. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan…” QS Al-Anbiya’ [21] 35“Dan sungguh akan Kami uji iman kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” QS Al-Baqoroh [2] 155.Muslim atau mukmin yang benar-benar beriman, akan menghadapi ujian kesenangan dengan bersyukur, yaitu1. Menyadari nikmat itu dari Allah SWT2. Secara lisan memuji-Nya -mengucapkan hamdalah, Mempergunakan nikmat itu untuk ibadah dan kebaikan semata. Nikmat harta, misalnya, dengan cara mengeluarkan zakat, infak, sedekah, dan mendukung dakwah berupa kenikmatan atau kesenangan ini merupakan ujian terberat karena bisa membuat orang lupa diri, lupa Allah, dan sombong atau takabur, sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman"Karunia ini merupakan pemberian Rabbku untuk menguji imanku, apakah aku bersyukur atau aku kufur. Siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, sedang siapa kufur, sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” QS An-Naml [27] 40.Ujian kesusahan dihadapi dengan sabar, yakni menyadari kesengsaraan itu datang dari Allah SWT sebagai adzab, balasan kemaksiatan, atau untuk meningkatkan keimanan dan membersihkan dosa-dosa. Kesusahan dihadapi juga dengan tobat dan mohon ampunan kepada-Nya istighfar."Musibah berupa apa saja yang menimpa orang Muslim akan menyebabkan Alah menghapuskan dosanya, walaupun musibah itu hanya berupa duri yang menusuknya” HR. Bukhari."Dan berikanlah berita genbira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya” QS Baqoroh [2] 155-156.Ujian Keimanan Perintah & LaranganUjian keimanan secara umum adalah perintah dan larangan Allah SWT. Dalam Islam ada hal yang wajib dilakukan, seperti dalam Rukun Iman dan Rukun Islam, dan ada hal yang tidak boleh dilakukan, seperti perbuatan keji dan menyekutukan Allah SWT"Katakanlah “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan mengharamkan mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.” QS Al-A’raf [7] 33.Ujian Keimanan Sesuai dengan Kadar ImanAllah SWT akan menguji seorang mukmin sesuai dengann kadar keimanannya“Ya Rasulullah, manusia mana yang paling berat menanggungkan bala’ ujian iman?”. Jawab Nabi “Para Nabi, kemudian yang seumpamanya. Kalau seseorang ringan lemah dalam din agama-nya, maka ia diberikan cobaan sesuai dengan kadar din-nya. Dan kalau agama seseorang kuat, maka kadar ujian iman yang Allah berlakukan terhadap dirinya berat. Senantiasa seorang hamba menerima bala’, sehingga dosanya hapus” HR Bukhari.Demikianlah jenis-jenis ujian keimanan bagi Umat Islam. Semoga kita dan senantiasa mampu menghadapinya dan lulus dari ujian-Nya. Amin...!Wallahu a'lam bish-shawabi. Cobaan atau ujian yang menghampiri orang yang beriman sangat banyak bentuk dan wujudnya. Tidak hanya berupa penderitaan yang menyengsarakan, namun dapat pula berupa kesenangan dengan berlimpah harta, jabatan dan lainnya. Lantas, mengapa orang mukmin mendapatkan cobaan? Hal ini akan Guru Abata sampaikan beberapa alasan Allah menguji orang beriman dengan judul, mengapa orang yang beriman diuji oleh Allah? Allah Berkehendak agar Manusia Membuktikan Keimanannya Jika sebuah cincin ingin diketahui apakah cincin tersebut terbuat dari emas atau tembaga, maka cincin tersebut harus diuji. Sebagaimana pula para penambang emas, ketika mereka menemukan suatu kepingan dengan warna mirip emas, untuk memastikan apakah benar-benar emas ataukah bukan emas, maka kepingan berwarna emas tersebut harus diuji. Demikian juga umat Islam yang telah mengikrarkan diri sebagai umat beriman kepada Allah, beriman terhadap adanya para malaikat, beriman kepada Rasulullah SAW, beriman kepada kitab-kitab Allah, beriman kepada hari kiamat, dan beriman kepada adanya takdir baik dan takdir buruk. Maka setiap orang beriman akan diuji tentang kesungguhan dan keseriusan keimanan mereka. Setelah mereka diuji, inilah yang ditegaskan Allah SWT dalam al-Qur’an Surat al-Ankabuut ayat 2-3 أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣ “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Allah Mencintai Hamba-Nya Sekadar perumpamaan, saat kita menemani anak kecil, entah anak kita, adik, keponakan atau siapa pun anak kecil yang kita temani dan kita mencintainya karena kelucuannya, besar kemungkinan dalam diri kita terpancing untuk menggodanya, entah digelitik, dicubit atau ditakut-takuti. Tapi tentu kita tahu bahwa kita menggodanya karena kita mencintainya. Inilah yang disabdakan Rasulullah dalam haditsnya yang berarti; Dari Anas ra, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, Apabila Allah SWT menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka Dia menyegerakan penderitaan di dunia, dan apabila Allah SWT menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka Dia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah SWT akan menuntutnya pada hari kiamat.’ Lalu, beliau bersabda, Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah SWT mencintai suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga, siapa saja yang ridla terhadap ujian Allah, maka Allah akan meridlainya dan siapa saja yang murka terhadap ujian Allah, maka Allah akan memurkainya.’” HR. Tirmidzi Allah Berkenan Menghapus Dosa Hamba-Nya Manusia mana yang tidak berdosa? Hanya para Nabi yang ma’sum terpelihara dari dosa dan mendapat jaminan pengampunan dosa. Meski demikian, Rasulullah SAW tetap menjadi teladan, beliau membaca istighfar kepada Allah dalam sehari semalam sebanyak tujuh puluh kali, bahkan dalam riwayat yang lain sebanyak seratus kali. Sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut; Diceritakan dari Aghar bin Yasar al-Mazinny ra., ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah setiap hari seratus kali.’” HR. Muslim Islam mengajarkan taubat baik bagi manusia yang merasa pernah berbuat dosa maupun merasa tidak berbuat dosa. Bertaubat berarti kembali pada jalan yang benar dengan memohon pengampunan dosa dari Allah Swt. Allah Hendak Memasukkan Hamba yang Diuji ke Dalam Surga Terhadap setiap ujian, kesabaran merupakan sikap keniscayaan yang harus dipilih dan digunakan. Sebab kalau ia tidak sabar, ia pasti gagal. Kalau sudah gagal, maka kerugianlah yang akan ia peroleh. Namun jika sabar, tentu keberuntungan yang banyak didambakan orang akan dapat ia raih. Hal inilah yang tersurat dalam sebuah hadits qudsi yang artinya; Dari Anas ra., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, “Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan kebutaan pada kedua matanya, kemudian dia sabar, maka Aku akan menggantikannya dengan surga.”’” HR. Bukhari Surga memang hadiah dan fasiitas idaman setiap muslim dan muslimah, bahkan non muslim pun sama-sama mendambakan kelak jika mereka meninggal tetap masuk surga, meski mereka kurang memedulikan cara dan proses untuk memperoleh dan meraihnya. Sebuah anugerah dan balasan terindah, surga benar-benar tak dapat dibayangkan, tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan terlintas dalam benak siapa pun. Ia benar-benar dirahasiakan, dan hanya dapat ditangkap oleh hati dan sikap keimanan. Itulah sebabnya di antara karakteristik orang bertakwa adalah beriman terhadap yang ghaib dan abstrak. Tidak semua benda dapat ditangkap oleh panca indera, makhluk-makhluk Allah seperti angin, rasa sakit, rasa senang, malaikat, setan, termasuk keberadaan surga dan neraka adalah makhluk yang abstrak yang hanya ditangkap oleh hati dan keimanan. Semoga artikel tentang mengapa orang yang beriman diuji oleh Allah? ini dapat mengokohkan hati kita sebagai hamba Allah yang benar-benar siap dan kuat dikala mendapatkan ujian dan cobaan. Aamiin. Terimakasih.

tidak beriman seseorang sebelum diuji